Thursday, July 27, 2006

Al-Zaytun Pionir Sistem Pendidikan Satu Pipa

Al-Zaytun telah sepenuhnya menerapkan konsep system pendidikan satu pipa (one pipe education system). Mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Kampus Peradaban bermotto toleransi dan perdamaian ini adalah pionir pendidikan satu pipa di Indonesia.

Kampus Al-Zaytun yang didirikan dan dikelola Yayasan Pesantren Indonesia ini diresmikan Presiden RI BJ Habibie dan pertama-kalinya memulai pembelajaran Kelas 7 tahun 1999. Enam tahun kemudian, tepatnya 1 Juli 2005, dibuka Kelas 1-6 (sekolah dasar) dan Universitas Al-Zaytun Indonesia. Sejak itu konsep system pendidikan satu pipa secara sepenuhnya mulai dilaksanakan di Al-Zaytun. Jika sebelumnya Universitas Al-Zaytun Indonesia dimulakan, kampus ini dikenal dengan Ma'had Al-Zaytun, maka sejak 1 Juli 2005, dikenal dengan nama Kampus Al-Zaytun.

Hari permulaan pembelajaran selalu dilakukan pada 1 Juli. Upacara permulaan pembelajaran itu, selalu diisi dengan penanaman nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Selalu saja Syaykh Abdussalam Panji Gumilang menyampaikan pesan dan nasehat untuk menyatukan visi perdamaian bagi segenap civitas akademika dan eksponen Al-Zaytun, bahkan juga dengan para wali siswa-mahasiswa (santri).

Pada kesempatan itu, kepada semua santri, guru, pengajar, dosen, karyawan, eksponen dan tamu undangan terhormat, termasuk para wartawan yang biasa hadir, Syaykh AS Panji Gumilang menyampaikan seruan kemanusiaan kepada seluruh umat manusia. Seruan kehidupan yang damai, toleran, dan demokratis.

Setiap kali mendengar seruan Syaykh untuk mewujudkan cita-cita perdamaian, toleransi, dan demokrasi itu, walau sudah berkali-kali, selalu saja terasa ada yang baru dan memberi semangat dan pemahaman baru. Terlebih, semua dikemas dalam sebuah seremoni yang mampu membangkitkan rasa percaya diri sebagai bangsa, untuk kemudian timbul semangat untuk mencintai bangsanya sendiri, dan sebagai kader-kader cinta damai otomatis mencintai pula bangsa-bangsa lain. Sebab ukurannya adalah rasa kemanusiaan yang tak mengenal batas dan perbedaan.

Seruan Memperkuat Indonesia

Sebagai institusi pendidikan yang memegang teguh semangat pendidikan kepesantrenan, namun dikelola dalam system modern dan ber-setting global, seremoni permulaan tahun ajaran baru setiap 1 Juli selalu ditandai dengan acara yang sarat penanaman nilai-nilai perdamaian, kebersamaan dan toleransi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pembukaan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru Bagi Pelajar dan Mahasiswa Al-Zaytun Tahun 1427-1428H/2006-2007M, pada 1 Juli 2006, yang berlangsung di Gedung Serbaguna Al-Akbar, juga berlangsung meriah. Ruangan terisi penuh lebih dari 10.000 orang santri, wali santri, koodinator Al-Zaytun dari seluruh Indonesia, guru, pengajar, dosen, eksponen YPI/Al-Zaytun, pimpinan organisasi siswa dan mahasiswa. Khusus kali ini dihadiri serombongan wartawan senior yang tergabung dalam East-West Center, terdiri dari negara-negara Asean dan AS.

Seremoni sendiri dimulai dengan kemunculan eksponen Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) dan Al-Zaytun, yang memasuki ruangan upacara dengan penuh rasa hormat. Tak berapa lama terdengar pulalah bunyi musik gending Jawa, pertanda orang yang ditunggu-tunggu akan datang yaitu Syaykh AS Panji Gumilang.

Santri rijal-nissa membentuk pagar betis begitu mendengan komando aba-aba serentak memberi hormat kepada Syaykh, yang sedang melangkah di atas karpet merah, membuat suasana hening sejenak. Syaykh berjalan didampingi Umi dan rombongan Ibu-Ibu lainnya. Di belakangnya menyusul Wakil Ketua YPI Ustadz Imam Supriyanto dan Sekertaris YPI Ustadz Abdul Halim, serta eksponen lainnya. Begitu Syaykh menduduki kursi, irama musik berhenti, hadirin khusyuk semua. Tak berapa lama bergemalah suara paduan suara diiringi musik modern menyanyikan lagu "Bangun Pemuda-Pemudi".

Sebelum lagu memasuki bait kedua, seorang orator berseru dalam balutan sajak perjuangan yang membahana. Ia mengajak semua pihak untuk membangun, sebab Indonesia harus kuat sebagai bangsa. Belasan ribu hadirin memberikan applaus, tepuk tangan, mengamini cita-cita bersama, Indonesia harus kuat.

Puisi yang menggelora semangat cinta kebangsaan, cinta dunia, dan cinta kemanusiaan itu :
Bait pertama : Wahai Pemuda Bangsa Indonesia, Bangunlah Engkau dari tidur panjangmu, Bangkitlah Engkau dari ketidak-berdayaanmu, Singsingkanlah lengan bajumu, Menuju Indonesia maju.
Bait kedua : Majulah membangun Negara, Majulah membangun dunia, Majulah membangun budaya, Tetaplah berusaha, Tunaikan tugas Negara.
Bait ketiga : Dalam persatuan, Kuasai negaramu, Indonesia harus kuat, Indonesia harus kuat, Indonesia harus kuat.

Seruan agar membangun Indonesia yang kuat itu membuat bulu roma bergidik, kuping bergetar, mata hati dan pikiran melihat jauh ke depan keagungan cita-cita Al-Zaytun yang mencerdaskan dan mendambakan perdamaian abadi di atas kemandirian Indonesia yang kuat.

Al-Zaytun berlambang warna, terlebih dahulu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, baru dilanjutkan "Mars Al-Zaytun" cipataan Abu Haqiqi, dan Mars Universitas Al-Zaytun Indonesia berjudul "Ajaran Ilahi Untuk Semua" gubahan Catur Tunggal.

Setelah itu acara dilanjutkan pidato pimpinan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) Al-Hajh Imam Supriyanto, penyerahan topi kepada pelajar Kelas 1, Penyerahan panji kepada pelajar Kelas 7, dan pemakaian jaket almamater kepada mahasiswa Kelas 13 Universitas Al-Zaytun Indonesia oleh Syaykh AS Panji Gumilang. Syaykh kemudian pemberian pidato atau tausiyah pertanda resminya pemulaan tahun ajaran baru 1427-1428 Hijriyah atau 2006-2007 Miladiah.

"Pada kesempatan yang berbahagia ini kami selaku penanggung-jawab umum di institusi pendidikan Al-Zaytun mengajak para hadirin untuk memajukan pikiran kita, domir kita, sebagai ungkapan syukur kepada Allah, bahwa institusi pendidikan yang kita bangun bersama-sama, pada pagi ini mencapai umur ke-7, dan pada hari ini pula kita memulakan pembelajaran memasuki periode tahun 27 Hijriyah dan 2006 miladiah ini," kata Syaykh pada awal pidatonya.

Sekali lagi, serunya, mari kita panjatkan syukur kepada Allah atas segala karunianya yang telah dilimpahkan kepada kita semua, selaku umat manusia yang menghambakan diri kepada-Nya dalam bentuk dan person terhadap pendidikan ini.

Untuk itu semua, kata Syaykh, maka dengan mengharap ridho Allah SAW, dengan resminya pembelajaran tahun ini kami nyatakan dibuka. Semoga Allah SAW memberikan kekuatan kita semuanya memasuki pendidikan ini, dan melaksanakan pendidikan ini, memberikan segala upaya, kemudahan-kemudahan sehingga berjalan dengan baik sampai pada batas akhir tahun dengan selamat dan terus memulakan tahun-tahun selanjutnya.

Syaykh menjelaskan, Al-Zaytun pada umur yang ke-7 ini, telah memulaikan sebuah system satu pipa sehingga pembukaan pembelajarannya pun dimulakan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi secara bersama-sama.

"Kita menetapkan tahun baru, tahun ajaran baru, dan tanggal ajaran baru, yaitu di bulan Juli tepatnya tanggal 1 Juli setiap tahun. Dengan perhitungan, persemester enam bulan, dan kemudian diadakan libur satu bulan, selanjutnya semester genap lebih lanjut enam bulan, dengan libur satu bulan. Kita terapkan dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi pembelajarannya pun seperti itu. Mudah-mudahan, dengan cara yang seperti ini kita terus sanggup dan ikut mengikuti aliran atau perjalanan pendidikan nasional yang ada di Indonesia ini," kata Syaykh Panji Gumilang.

Lebih lanjut Syaykh, mengungkapkan tentang apa yang telah diikuti Al-Zaytun dari system pendidikan nasional. Pelaksanaan pendidikan nasional yang telah memiliki Undang-Undang Kependidikannya, oleh Al-Zaytun, 100 persen diikuti. Dengan sitem yang dilakukan oleh system pendidikan nasional sendiri, maupun oleh system yang diterapkan oleh Departemen Agama, sampai hari ini kita mengikutinya, dan tidak mengenyampingkan apa yang kita miliki, sebuah system kepesantrenan.

Didasari Pertimbangan Ilmiah

Dalam tahun ajaran 2006-2007, Al-Zaytun mendidik santri Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 2.342 orang (terdiri Rijal 1.248, Nisa 1.094), Madrasah Tsanawiyah 1.950 orang (terdiri Rijal 1.098, Nisa 852), Madrasah Aliyah 3.713 orang (terdiri Rijal 2.151, Nisa 1.562), Kelas dewasa SD, SMP, SMA 449 orang, dan perguruan tinggi Universitas Al-Zaytun Indonesia 581 orang (terdiri Rijal 337, Nisa 244). Sebaran perguruan tinggi itu terdiri dari Fakultas Pertanian Terpadu 148 orang (terdiri Rijal 84, Nisa 64), Fakultas Teknik 58 orang (terdiri Rijal 44, Nisa 14), Fakultas Kedokteran 127 orang (terdiri Rijal 53, Nisa 74), Fakultas Teknologi Informasi (TI) 97 orang (terdiri Rijal 64, Nisa 33), dan Fakultas Bahasa 151 orang (terdiri Rijal 92, Nisa 59).

Usai Syaykh memberikan tausyah pencerahan bagaimana cita-cita dan visi jangka panjang Al-Zaytun yang melebihi peradaban masa kini, diadakan pembagian hadiah uang tunai secara simbolis kepada johan atau juara-juara terbaik peringkat 1-3 dari setiap kelas 1-11. Peraih Johan Pelajaran Santri Al-Zaytun merata berasal dari berbagai daerah seluruh Indonesia termasuk dari Malaysia. Para Johan kebanyakan memiliki nilai rata-rata di atas 9,0. Sebuah pencapaian yang sangat masuk akal sebab pada Ujian Nasional (UN) 2006 pun, untuk tingkat tsanawiyah dari 784 siswa Al-Zaytun yang ikut UN semua (100%) lulus dan dengan perolehan nilai yang nyaris sempurna pula.

Imam Supriyanto, Wakil Ketua YPI mengatakan Al-Zaytun telah bersama-sama berjalan tujuh tahun untuk memajukan system pendidikan satu pipa atau one pipe eduation system dari MI hingga Universitas. Imam berharap, sepulang tugas pengabdian di masyarakat, santri dapat segera mengikuti kembali disiplin-disiplin yang sudah digariskan Al-Zaytun. Tujuan pendidikan sistem satu pipa ini, kata Imam, supaya kita semua dapat mewujudkan, atau dapat menunjukkan satu masyarakat, atau satu kumpulan yang segala sesuatu didasari denga pertimbangan ilmiah.

Sebuah peristiwa menarik menandai permulaan pembelajaran kali ini. Ustad Agus Syamsuddin, dengan papan tulisnya berukuran sedang tampil ke mimbar mencontohkan pelajaran gabungan tiga pelajaran bahasa : Inggris, Arab, dan Indonesia menjadi satu pelajaran tunggal bernama Bahasaku, Arabiyaqi, My language.

Ustad Agus Syamsuddin saling bertegur sapa dan berkomunikasi dengan ribuan santri dalam tiga bahasa. Penyatuan tiga bahasa Arab, Inggirs, dan Indonesia menjadi satu pelajaran atau tree in one, adalah sekelumit perubahan progresif di lingkungan Al-Zaytun. Sebab, berdasarkan hasil Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Al-Zaytun, dalam sidangnya direkomendasikan mata pelajaran keagamaan tak lagi diajarkan di kelas yang waktunya terbatas hanya 45 menit tiap satu jam pelajaran. Melainkan, mengajarkannya di luar kelas yang memiliki waktu tak terbatas atau 1 X 24 jam sehari. (Sumber Majalah Berita Indonesia-17/2006)

Bacaan Selanjutnya!

Wednesday, June 07, 2006

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Zaytun

Mendidik Sejak Dini

Setelah enam tahun berjalan dan meluluskan santri angkatan pertama, Al-Zaytun terus mengembangkan sayap. Kini telah dibuka Madrasah Ibtidaiyah dan Universitas Al-Zaytun Indonesia.

Jum'at pagi di gedung pembelajaran Abubakar Al Shiddiq tampak pelajar MI berpakaian seraga krem bergaris coklat dengan wajah penuh ceria. Anak-anak belia itu, begitu menaiki tangga, sudah tersedia makanan untuk sarapan pagi bersama dikelasnya masing-masing. Mereka begitu tertib mengambil jatah makanan yang telah disiapkan petugas.

Mereka berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Rupanya ana-anak yang masih belia itu merasa sudah terbiasa dengan rutinitas yang dilakukannya setiap pagi itu. Selesai makan, mereka mencuci tanggan di wastafel yang telah disediakan lengkap dengan lap tangannya. Mereka lalu membersihkan meja dan merapikan tempat makan, karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai.

Pukul 06.45 WIB, para siswa ini telah siap kembali di mejanya masing-masing. Sebab pada pukul 07.00 pelajaran jam pertama segera dimulai. Para guru sebelum memasuki ruang kelas juga mengadakan brieding pagi. Santri MI yang belajar di gedung Pembelajaran Abubakar Al Shiddiq terdiri dari kelas IV, V dan VI. Sedangkan untuk santri kelas I, II dan III menempati ruang pembelajaran Ali Ibnu Abi Thalib.

Para santri yang masih anak-anak itu tentunya memerlukan penanganan yang lebih dari santri-santri sebelumnya. Sebab usia mereka masih sangat belia untuk tinggal di asrama dan jauh dari orang tua.

Orang tua ikut Modok

Disadari oleh pihak Al-Zaytun, bahwa usia 6 hingga 11 tahun, masih usia ketergantungan terhadap orang tua. Anak-anak usia itu belum bisa dilepas sepenuhnya. Bukan saja mereka belum mandiri, tapi kasih saying orang tua terkadang masih diasumsikan sebagai keterdekatan secara fisik saja.

Untuk itu, ketika Madrasah Ibtidaiyah ini dibentuk, pihak Al-Zaytun telah mengantisipasi berbagai kemungkinan. Salah satu kemungkinan adalah intensitas orang tua wali murid dalam membesuk anak-anak mereka. Maka, bukan saja Al-Zaytun membuka keleluasaan waktu orang tua berkunjung, bahkan mereka diperbolehkan menginap di ruang asrama santri. Sehingga tak heran bila gedung Ali terlihat beberapa wali santri yang dengan setia menunggui putra dan putrinya hingga beberapa hari.

"Saya sudah seminggu menunggui anak saya. Sekarang waktunya bergilir dengan wali santri lainnya." Kata Ny. Herlina, salah satu wali santri yang dating dari Semarang. Ny. Herlina dan orang tua santri lainnya sepakat untuk bergiliran menunggui anak-anak mereka. "Nanti saya bisa menitipkan anak saya pada orang tua santri lain yang giliran menunggui," tambah Ny. Herlina.

Dengan cara saling bergiliran untuk menunggui anak-anaknya yang masih duduk di MI itu, para orang tua merasa lebih tenang meninggalkan anaknya untuk mondok di Al-Zaytun. Bukan itu saja, Ny. Herlina mengakui dengan cara seperti itu, orang tua santri satu dengan lainnya merasa tambah saling mengenal dan semakin erat hubungannya. Anak-anak juga merasa tenang karena ada orang tua mereka yang menuggi saat belajar.

Kedekatan hubungan ini bukan saja dengan sesame santri, tapi juga dengan civitas akaemika di Al-Zaytun. Sebab, di sela-sela anak-anak mereka belajar, mereka juga membantu di dapur dan kantin Al-Zaytun. Jadi, semangat kekeluargaan seperti inilah yang ingin diciptakan Al-Zaytun dengan para orang tua wali murid.

Mata pelajaran di Madrasah Ibtidaiyah ini selain berpedoman pada kurikulum Pendidikan Nasional, Kurikulum Departemen Agama, juga muatan local Al-Zaytun. Saat ini santri Madrasah Ibtidaiyah Al-Zaytun berjumlah 2.342 Orang.

Mereka belajar dari hari Senin hingga Jum'at. Beberapa wali santri yang ditemui Berita Indonesia mengaku, puas meyekolahkan anaknya di MI Al-Zaytun. Sebab selain biayanya terjangkau, keamanan anak juga terjamin dan mutu pendidikannya pun sangat baik. Makanan anak terkontrol nilai gizinya. (Sumber Majalah Berita Indonesia -14/2006)
Bacaan Selanjutnya!
Program Magang Menjadikan Lulusan yang Serba Bisa

Universitas Alumnus Universitas Al-Zaytun (UAZ-Indonesia), diresmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, pada 27 Agustus 2005. Tapi jauh sebelum itu sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang telah lama dipersiapkan. Mulai dari gedung perkuliahan, labotorium pertanian, peternakan, IT, semuanya menyatu dalam satu komplek Al-Zaytun. Meski baru satu tahun dan baru memiliki mahasiswa yang saat ini menginjak semester II, gerak langkah dan aktivitas kampus UAZ-Indonesia terus berpacu dengan waktu dan penuh dengan kompetensi baik antar mahasiswa maupun denga eksponen. Semuanya bahu membahu dan saling mendukung untuk mewujudkan UAZ-Indonesia sebagai universitas riset yang berkala dunia.

Mahasiswa dituntut untuk terus berkarya tidak hanya pada bidang ilmu yang digelutinya, melainkan juga harus mengetahui dan menguasai bidang lain. Keberadaan mahasiswa yang lebih kurang 900 orang, memberikan warna lain dari sebelumnya. Mereka merupakan angkatan pertama yang masuk menjadi satri di Tsanawiyah kelas I enam tahun yang lalu. Selama kurun waktu tersebut mereka benar-benar telah terdidik dan digembleng dengan disiplin yang tinggi. Materi pendidikan memadukan antara pendidikan agama dan umum telah membuat mereka menjadi lulusan yang siap untuk ditempatkan di mana saja.

Untuk memberdayakan setiap jengkal tanah yang ada dari lahan seluas 1.000 Ha, para mahasiswa diberikan kesempatan mengikuti program magang di lahan pertanian. Selain itu mereka juga diberikan kesempatan menjadi guru sandaran di Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang juga lahir bersama UAZ-Indonesia. Tentu sebuah terobosan yang sangat menguntungkan bagi para mahasiswa. Karena jadwal kuliahnya tidak terlalu menyita waktu seperti ketika santri di Tsanawiyah maupun Aliyah. Praktis para mahasiswa punya waktu luang yang bisa dimanfaatkan dibidang lain dengan melakukan magang dan berbagai praktek lapangan.

Program pertama yang telah berjalan adalah pembentukan KTT (Kelompok Tani Terpadu). Saat ini telah dibentuk sepuluh KTT yang masing-masing KTT diketuai oleh para eksponen yang anggotanya terdiri dari mahasiswa P3T yang telah ditiadakan ditambah dengan mahasiswa magang yang berasal dari berbagai fakultas dan jurusan. Misalnya pada KTT-I dibawah bimbingan lansung Syaykh AS Panji Gumilang, yang beranggotakan 49 orang mahasiswa magang angkatan pertama. KTT-II dipimpin oleh Abdul Halim, KTT-III dipimpin oleh H. Imam Supriyanto, KTT-IV dipimpin oleh Abu Sabit dan seterusnya. Program magang ini bukan hanya melibatkan mahasiswa tetapi juga eksponen lainnya seperti guru. Para eksponen dan guru tak heran bila setiap sore mereka pergi ke lahannya masing-masing sesuai dengan lokasi KTT mereka. Syaykh AS Panji Gumilang sendiri, dengan bersepeda begitu rajin ke lahan untuk membimbing anggota KTT-nya. Sehingga Syaykh hamper setiap sore hingga menjelang magrib masih berada di lahan. Mahasiswa magang dipandang berhasil jika sudah menguasai pertanian minimal tiga jenis tananaman.

Iqbal, Ketua mahasiswa magang angkatan pertama yang berasal dari Fakultas pertanian kepada Berita Indonesia mengatakan, program magang tersebut sangat berguna bgai mahasiswa. Itu bukan saja dirasakan oleh mahasiswa yang berasal dari Fakultas Pertanian melainkan juga dari fakultas laini. Seperti Fakultas kedokteran, IT, Peternakan, dan lain sebagainya.

Iqbal mencontohkan, dirinya dan temannya mengaku bahwa dibangku kuliah belum menerima materi, seperti masalah hama, penyakit, serta tanah secara mendalam, dan baru sebatas dasar-dasar bertani. Namun dengan adanya system magang tersebut mereka akhirnya mempelajari dari dasar. Mulai dari bagaimana car mengolah tanah, memilih bibit, menanam yang baik, meyiram, memupuk, memeriksa jenis penyakit dan hama pada setiap pohon tanaman, seta menentukan pestisida apa yang cocok dengan penyakit yang ada.

Tahap pertama mahasiswa angkatan pertama menanam jagung jenis P-2, kacang dan cabe. Khusus jagung, panen perdananya sudah dilakukan dengan hasil yang cukup mengggembirakan. Tak heran bila para mahasiswa-mahasiswa tersebut begitu bersemangat untuk bercocok tanam. Sambil bersendau gurau mereka mengupas dan memotong tangkai jagung yang akan dikirim ke pasar yang tidak lain adalah kichen Al-Zaytun sendiri untuk kebutuhan internal.

Iqbal mengaku, dalam segi pemasaran tidak menemui kendala. Karena kebutuhan di dalam area Al-Zaytun demikain banyak. Dia mencontohkan untuk jagung yang masih muda, jika bunganya ada 3 buah dalam saut batang , maka akan dipilih satu buah yang tumbuhnya subur dan segar untuk dilanjutkan sampai tua. Sedangkan dua lainnya dipanen muda dan hasilnya bisa dibuat sayur.

Sementara hasil penjualannya diserahkan kepada para pengelola. "Alhamdulillah dari 49 orang angkatan pertama yang masuk dalam KTT-I sudha bisa menikmati hasilnya. Hasil dari penjualan jagung kami belikan sepeda sebagai transpotasi dari asrama ke lahan karena lokasinya jauh. Sekarang sudah ada 36 sepeda yang kami beli meski itu dengan cara mencicil dari hasil magang," ujarnya bangga. Pria asal Bandung ini pantas berbangga hati, sebagai ketua kelompok dia mampu mengkoordinasikan teman-temannya dari berbagai disiplin ilmu untuk membuat mereka lebih mandiri. Dengan fasilitas dan dukungan serta bimbingan langsung dari Syaykh AS Panji Gumilang, mereka merasa terpacu dan bertekad untuk mengangkat harkat hidup petani. "Dari dulu petani itu dikenal miskin, kumuh, kumal dan sebaginya. Tapi mulai sekarang kami bertekad membuktikan bahwa dari petani dan pedesaanlah roda perekonomian itu bisa digerakkan, dengan cara berswasembada pangan," ujarnya.

Hal senada juga diakui Deni Abdul Fatah, adal Sukabumi yang juga salah satu peserta magang angktan pertama. Dia ber-pandangan, ke depan kehidupan petani tidak lagi menjadi bahan ejekan karena miskin dan kumuh. Dengan berbekal ilmu pengetahuan dan pengalamannya di Al-Zaytun selama menimba ilmu di yakin kelak akan menjadi orang yang sukses meningkatkan taraf hidup petani.

Bagi Iqbal maupun Deni sama-sama mengaku setelah menyelesaikan program magang ini, mereka akan mendapatkan kesempatan untuk mengelola lahan seluas 5 Ha di area sekeliling Al-Zaytun. Mereka sudah dianggap mampu untuk melakukan bercocok tanam dengan baik dan diberi kepercayaan yang lebih luas lagi. Tentu saja itu merupakan sebuah penghargaan yang luar biasa bagi mereka.

Lika Kusmawati (19), mahasiswi Jurusa Teknologi Informasi (TI) asal Bogor yang juga mengikuti magang bercocok tanam berpendapat, magang pertanian bukan berarti dominasi mahasiswa pertanian saja, tapi secara keseluruhan dari jurusan lain juga agar tahu bagai mana cara bertani. Dia mencontohkan pengetahuannya setelah mengikuti program magang pertanian, misalnya bagaimana memilih bibit cabe hingga menanamnya. Diakuinya untuk bibit cabe yang layak tanam berumur +/- sebulan atau sudah memiliki enam daun, baru layak tanam. Untuk menanam cabe ini setiap labang didanami satu pohon cabe, bila ada yang mati akan disulam kembali supaya merata. Usia cabe keriting agar bisa panen berumur 3-4 bulan, hasil cabe ini merupakan hasil persilangan cabe lain yang memiliki yang memiliki keunggulan lebih pedas dan buahnya lebih besar. "Hasilnya akan dijual ke pasar dan ke dapur Al-Zaytun. Rencananya sesudah selesai panen cabe ini akan ditanam sayur-sayuran seperti jenis kacang-kacangan dan bawang." Ujarnya.

Untuk membagi waktu antara kuliah dan praktek lapangan, mereka harus pandai membagi waktu. Misalnya, kalau tidak ada jadwal kuliah mereka akan pergi ke kebun. Mereka mengadakan kuliah di waktu pagi dan selebihnya bisa ke kebun. Selain mengisi waktu, mereka juga ingin tahu cara menanam padi, jagung dann lain-lain. Pada awalnya mereka merasa geli bila menemukan ulat-ulat bulu itu merayap di tanaman jagung, namun belakangan mereka jadi terbiasa.

Neneng hayatin (20), mahasiswa Fakultas Kedokteran asal Banten menyatakan bahwa kertarikannya untuk ikut tanam padi adalah mencari pengalaman dan ingin mempelajari proses menanam. Dia mengaku bahwa sebelumnya sama sekali belum pernah bercocok tanam, tapi setelah mencoba, dia mengaku bisa melepas penat dan jenuh sewaktu belajar di kelas.

Lalila Rahma (20), mahasiswi asal Cileduk, Jakarta Selatan, mengaku lain lagi. "Kami mendapatkan pengalaman dan ingin mandiri kelak, ujarnya. Keinginannya sejak dulu agar bisa menanam padi kini sudah tercapai dengan adanya program magang di Al-Zaytun.

Hal yang sama juga diakui Andri Gunawan dari Fakultas Teknologi Informasi. Keikut-sertaannya dalam bercocok tanam ini adalah untuk mengetahui tata cara menanam yang benar. Selain itu, dia bisa menyebarkannya cara menanam yang baik dan sudah dikuasainya melalui internet. Sehingga orang lain juga tahu bagaimana tata cara menanam yang baik dan benar.

Program Guru Sandaran

Selain program magang pertanian bagi para mahasiswa-mahasiswi juga dikembangkan program magang pendidik. Mahasiswa-mahasiswi magang ini disebut guru sandaran yang menjadi tenaga pengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang baru dibuka bersamaan denga Universiatas Al-Zaytun. Status guru sandaran ini diberikan kepada para mahasiswa dan mahasiswi yang mampu melaksanakan tugas pendidikan. Menariknya, mereka digaji.

Jazalah, salah seorang guru sandaran kelas IV-B1, yang ditemui Berita Indonesia mengaku senang bisa mengajar para santri yang masih duduk di bangku MI tersebut. Pemuda calon dokter itu, mengaku ketika pertama kali yayasan membuka peluang bagi mahasiswa untuk menjadi guru sandaran di MI, dia pun segera mendaftarkan diri. Meski kesibukannya menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran UAZ-Indonesia padat, sama sekali tak mengendorkan semangatnya untuk mengajar. Dengan stelan jas hitam dan berpeci hitam pria asal Sidoarjo Jawa Timur tersebut, semangat saat mengajar di kelas.

Meski tidak memiliki spesialisasi jurusan pendidikan dia ternyata mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada adank didiknya. Bahkan mata pelajaran yang diajarkannya adalah Bahasa Arab. Dia mengaku dalam menghadapi anak-anak tentunya tidak sama dengan menghadapi orang dewasa atau siswa setingkat SMP atau pun SMA. Disinilah dibutuhkan perhatian yang serius dan bagaimana seorang guru bisa membuat si anak selalu dalam keadaan senang terutama ketika mereka sedang menerima pelajaran.

"Kami di sini diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dan menggali potensi diri. Orang mungkin bertanya mahasiswa Fakultas Kedokteran kok ngajar bahasa arab. Itulah yang terjadi. Kami selama enam tahun di gembleng tidak hanya mendalami satu bidang saja. Kami dituntut menjadi manusia yang berkompetensi dengan menguasai segala bidang ilmu. Walaupun kami punya spesialisasi sendiri dalam memilih jurusan di universitas," ujarnya.

N.A. Hidayatullah, Guru Sandaran Matematika Kelas I MI yang juga mahasiswa Fakultas Kedokteran UAZ-Indonesia mengatakan, mengajar adalah merupakan pengalaman tersendiri. Terlebih lagi yang dididiknya adalah anak-anak yang masih sangat dekat denga orang tuanya. Anak-anak sebesar itu lebih banyak rewel dan masih sulit diatur. Tapi baginya justru dengan demikian dia mendapatkan pengalaman yang cukup berarti dalam mengembangkan diri.

Mia Oktorina (20) asal Jateng (Semarang) guru sandaran bidang IPA untuk kelas IV-C1 dengan jumlah anak didik mencapai 35 orang. Mahasiswa Fakultas Kedokteran ini mengaku merasa enjoy bila menjalankan tugas tambahannya sebagai guru sandaran. Selain menambah pengalaman, juga memberikan ilmu yang dia dapat selama ini. Dia merupakan santri angkatan pertama, yang sekarang mengikuti system pendidikan satu pipa itu menjadi kelas 13 (tiga belas) atau sama dengan mahasiswa tingkat pertama.

Mereka merasa bersyukur, diberikan kesempatan oleh Al-Zaytun untuk lansung menularkan ilmunya. Disamping itu dari pekerjaan sambilan menjadi guru sandaran juga mendapat gaji yang cukup lumayan untuk meringankan beban orang tua untuk melanjutkan kuliah.

Di samping mengajar, para mahasiswa-mahasiswi ini juga diberikan lahan untuk bercocok tanam. Tak heran bila ada yang kuliah di pagi hari sampai pukul 09.00. Kemudian dari waktu pukul 09.00 – 12.00 kosong mereka akan mengisinya dengan mengajar menjadi guru sandaran. Setelah itu disambung lagi melanjutkan kuliahnya sampai pukul 15.00, setelah itu mulai pukul 15.30 sampai 17.30 mereka manfaatkan waktunya untuk magang bertanam.

Semua program magang maupun menjadi guru sandaran dimaksudkan untuk lebih mematangkan dan meningkatkan kemampuan para lulusan di kemudian hari. Setelah batas magang selesai mereka akan mendapat jatah lahan garapan dari Yayasan 5 Ha tanah per angkatan dari berbagai fakultas. Sekertaris Yayasan Pesantren Indonesia Abdul Halim kepada Berita Indonesia mengatakan, jika mereka nanti tamat tidak akan ada lagi yang punya pikiran kosong. "Mau jadi manusia dimana terserah. Mau mengabdi disini juga boleh ! Jadi dari segi kehidupan mereka sudah mampu, dari segi pengalaman mereka mampu mandiri. Maka, di manapun dia berada, di otaknya itu tidak akan ada tanah yang kosong. Dia akan selalu berpikir untuk memanfaatkan. Di mana saja mereka berada, mereka akan hidup," ujarnya optimis.
(Sumber Majalah Berita Indonesia -14/2006)
Bacaan Selanjutnya!
UN 2006, Momentum Al-Zaytun Buktikan Diri

Secara keseluruhan, nilai angka kelulusan peserta didik tingkat Tsanawiyah / SMP dan Aliyah / SMA Al-Zaytun pada Ujian Nasional Tahun 2005 lalu jauh di atas rata-rata nasional. Sekitar 30 persen di antaranya bahkan memperoleh nilai 8-10. Peserta didik yang tidak lulus hanya dibawah 0,005 persen. Akankah prestasi tersebut terulang kembali di Ujian Nasional 2006?

Pada 27 Agustus 1999, Al-Zaytun diresmikan oleh Presiden RI Prof. Dr. BJ. Habibie. Enam tahun kemudian, akhir Mei 2005, Al-zaytun telah menghasilkan lebih dari 1.200 peajar Madrasah Aliyah atau Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai lulusan angkatan pertama.

Satu hal yang sangat menggembirakan dan membanggakan seluruh pengelola Al-Zaytun, hasil Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2004 / 2005 dari peserta didik mereka sangat memuaskan. Sekedar mengingatkan, dunia pendidikan di Indonesia dibuat heboh lantaran dari 800.000 siswa SMP dan SMA di tanah air, peserta UN untuk tahun ajaran 2004/2005 tersebut, ternyata tidak lulus.

Seperti diketahui, ada tiga mata pelajaran yang diujikan secara nasional: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matermatika. Secara umum, banyak siswa tidak lulus pada Bahasa Inggris dan Matematika. Hasil UN mereka tidak dapat mencapai standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah (baca: Departemen Pendidikan Nasioanl / Depdiknas) yakni 4,25. Ironisnya lagi, banyak sekolah di tanah air yang tingkat kelulusannya nol persen.

Dari data yang dirilis Depdiknas sebanyak 817.302 siswa (16,37%) dari 4.990.266 peserta UN tahun 2005 dinyatakan tidak lulus. Pada 2004, yang tidak lulus sebanyak 403.872 siswa.
Di "kota pelajar" Yogyakarta, misalnya, ada 13 SMA yang tingkat kelulusannya nol persen. Di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dari 111.482 siswa SMP dan SMA, termasuk Tsanawiyah dan Aliyah, sebanyak 48.160 siswa (43,30 persen) dinyatakan tidak lulus UN. Angka ini lebih besar dari tahun lalu yang hanya 33 persen.
Di Jawa Timur, kasus serupa juga terjadi. Dari 451.104 siswa SMP dan SMA yang ikut UN, 55.258 siswa tidak lulus. Surabaya menjadi penyumbang terbesar ketidak-lulusan di mana 4.691 siswa SMP dan SMA dinyatakan tidak lulus. Bahkan ada empat SMP yang kelulusannya nol persen.
"Pemerintah prihatin atas hasil itu, tapi itulah kenyataaan yang harus dibuka. Sejak dulu kualitas pendidikan kita rendah," ungkap Wakil Presiden Jusuf Kalla, menanggapi kabar menyedihkan tersebut, awal Juli 2005.
Bagaimana profil hasil UN pada siswa Al-Zaytun? Bila ditakar dari hasil yang dicapai siswa-siswanya, maka lembaga pendidikan bermoto "Pesantren Spirit but Modern System" sangat pantas mendapat predikat sebagai sekolah unggulan baru.
Untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah / MTs (setara SMP), hanya ada lima orang siswa yang tidak lulus (0,45 persen) dari 1.110 peserta didik Al-Zaytun yang mengikuti UN. Satu anak tidak lulus pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan empat siswa tidak lulus pada mata pelajaran Matematika. Sedangkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia semua siswa dinyatakan lulus.
Dari 1.110 orang siswa tingkat Tsanawiyah yang mengikuti UN, untuk mata pelajaran Bahas Indonesia, 60 orang siswa (5.41 persen) mendapat nilai antara 9-10, 293 orang siswa (26.40 persen) mendapat nilai antara 8-9, dan 451 orang siswa (40,63 persen) mendapat nilai antara 7-8, diikuti 283 orang siswa (24,50 persen) mendapat nilai 6-7.
Pada posisi nilai terendah presentasenya kecil saja, yakni 23 orang siswa (2,07 persen) mendapat nilai antara 5-6. Sementara untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, hasil nya juga patut dibanggakan. Sebanyak 93 orangn siswa (8.38 persen) yang mendapat nilai antara 9-10, 219 orang siswa (19,73 persen) mendaoat nilai 8-9, 344 orang siswa (30,99 persen) mendapat nilai 7-8, serta 418 orang siswa (37,66 persen) mendapat nilai antara 6-7.
Sisanya, sebanyak 34 orang siswa (3,06 persen) mendapat nilai antara 5-6, satu orang siswa (0,09 persen) dinyatakan tidak lulus. Khusu mata pelajaran Matematika, tidak seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, jumlah siswa yang mendapat nilai antara 5-6 lebih besar yakni 70 orang (6,31 persen).
Lepas dari realitas itu, peserta didik Al-Zaytun yang mendapatkan nilai antara 9-10 untuk mata pelajaran Matematika justru lebih banyak bila dibandingkan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Tercatat 68 orang siswa (6,13 persen) yang mendapatkan nilai antara 9-10. Bahkan, dari jumlah itu, 63 siswa mendapatkan nilai 10. Sedangkan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia tercatat 60 orang siswa. Ada empat siswa tidak lulus.
Gambaran yang tak jauh berbeda juga diperlihatkan oleh hasil yang dicapai peserta didik Al-Zaytun pada tingkat Madrasah Aliyah / MA (setingkat SMA) baik program studi IPA maupun IPS Prestasi mereka sangat memuaskan.
Dari 1.251 peserta didik (program studi IPA 66 siswa dan IOS 625 siswa), hanya satu orang (0,079 persen) yang tidak lulus. Peserta yang tidak lulus ini berasal dari program studi IPA, itu pun untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Pada tingkat Aliya ini, ada 22 orang siswa Al-Zaytun dari program studi IPA yang mendapatkan nilai 10 untuk UN mata pelajaran Matematika. Hanya satu orang peserta didik program IPA yang tidak lulus dan itu untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Patut dipaparkan pula, untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia ada 351 siswa (56,07 persen) dari program studi IPA dan 315 siswa (50,40 persen) dari program studi IPS yang mendapatkan nilai antara 7-8.
Yang memperoleh nilai antara 8-9 : 103 siswa (16,45 persen) dari program studi IPA dan 12 siswa (1,92 persen) dari program studi IPS. Kemudian, untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, ada 252 siswa (40,26 persen) dari program studi IPA dan 142 siswa (22,72 persen) dari program studi IPS. Selanjutnya, ada 440 siswa (70,40 persen) dari program studi IPS dan 241 siswa (38,50 persen) dari program studi IPA yang mendapatkan nilai 6-7.
Dari hasil Rekapitulasi Nilai Ujian Nasional 2005 Peserta Didik Al-Zaytun bisa dipetik kesimpulan : persentase peserta didik yang tidak lulus untuk tingkat Tsanawiyah dan Aliyah sangat kecil yakni di bawah 0,005 persen.
Keberhasilan Al-Zaytun membina insan-insan berkualitas juga ditandai oleh kesuksesan enam siswa lulusan Aliyah yang mampu masuk dalam 10 besar terbaik lulusan Ujian Nasional 2005 se Jawa Barat. Ini adalah prestasi gemilang yang mengagumkan, dan paparan fakta di atas menyuratkan satu hal yang sulit dibantah bahwa Al-Zaytun memang menjadi pusat pembinaan insan-insan cemerlang.
Saat ini, jumlah siswa Madrasah Tsanawiyah Al-Zaytun dari kelas satu sampai kelas tiga sebanyak 2.007 orang (1.134 siswa putra dan 873 siswa putrid). Sedangkan, jumlah siswa Madrasah Aliyah (bidang studi IPA dan IPS) dari kelas satu sampai kelas tiga sebanyak 3.956 orang siswa (2.312 siswa putra dan 1.644 siswa putrid).
Pada Mei 2006 ini, akan diselenggarakan Ujian Nasional untuk Tahun Pelajaran 2005/2006. Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 20 tahun 2005 tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006, nilai standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah adalah di atas 4,25.
Ketentuan tentang standar kelulusan ini tersurat dalam Pasal 18 Permendiknas 20/2005, yang ditetapkan pada 13 Oktober 2005 : "Peserta didik dinyatakan lulus ujian nasional apabila memiliki nilai lebih besar dari 4,25 untuk setiap mata pelajaran yang diujikan dengan rata-rata nilai ujian nasional lebih besar dari 4,50".
Akankah Al-Zaytun kembali sukses membuktikan prestasi dan kualitas peserta didiknya pada Ujian Nasional 2006 ini, seperti yang pernah dicapai pada Ujian Nasional tahun 2005?
(Sumber Majalah Berita Indonesia -14/2006).
Bacaan Selanjutnya!
Ekonomi Terpadu di Al-Zaytun

Seorang Santri sedang duduk makan di kantin yang cukup luas. Meja kursi terbuat dari kayu jati berjejer rapi dipenuhi santri lainnya. Di atas piring santri itu terdapat lauk rending, ayam goreng dan sayur asem. Tidak jauh dari piringnya tergeletak pisang, asinan dan segelas air putih. Bila dirunut, semua elemen yang ada di hadapan santri itu adalah proses yang terjadi di
Al-Zaytun. Proses ekonomi terpadu yang bergulir dari hari ke hari.

Melihat luasnya lahan, meganya gedung sekolah, asrama, dan berbagai fasilitas sarana dan prasarana di Mahad Al-Zaytun, orang tentu bertanya-tanya, dari mana dananya? Syaykh AS Panji Gumilang menyadari, secara financial untuk memenuhi kebutuhannya, Al-Zaytun tidak bisa bergantung sepenuhnya dari sumbangan donator serta partisipasi wali murid saja. Moto Mandiri dan mampu bersaing dengan bangsa lain, benar-benar dijalankan oleh yayasan ini. Al-Zaytun membuat sebuah mega proyek laboratorium alam yang sekaligus merupakan kegiatan ekonomi terpadu yang direncanakan dengan matang.
Dalam usahanya, sebagai kampus yang mandiri dan terpadu secara ekonomi, Al-Zaytun juga menyediakan sarana dan prasarana pendukung serta menjalankan berbagai industri. Seperti industri pengolahan susu, industri tahu dan tempe, industri pengolahan pangan, industri pengolahan pakan ternak, pabrik penggilingan beras, pabrik pengolahan garam yodium, percetakan, took serba ada, kantin umum, warung telpon, warung pos, bank, barber shop dan koperasi bersama.
Layaknya sebuah kota kecil, 'Distrik Al-Zaytun' memiliki denyut ekonomi kehidupan tersendiri. Sehingga, ketika seseorang dating ke distrik itu, dia tak perlu lagi mencari keperluannya di luar. Jangankan makanan dan minuman dengan menu gizi lengkap, bahkan pakaian, perlengkapan sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, tas, sepatu, semua bisa didapat di sini. Sarana olah raga dan kesehatan lengkap tersedia, termasuk dokter, tenaga kesehatan serta obat-obatannya. Jadi, bisa dibayangkan, betapa tingginya nilai rupiah yang beredar di lingkungan ini, dengan jumlah di atas 10.000 setiap harinya.
Laboratorium dan Lahan Ternak
Di atas lahan seluas 1.200 hektar, Al-Zaytun membuat sebuah laboratorium alam. Laboratorium ini dijadikan percontohan bagi seluruh santri dan penghuni kampus. Di sini dibangun sebuah unit ekonomi terpadu yang pada akhirnya menyokong keberlangsungan hidup kampus ini. Setiap jengkal lahan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Lahan-lahan dikapling dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Misalnya, lahan peternakan, dipelihara berabgai hewan ternak sperti domba, sapi potong, sapi perah, unggas (ayam, bebek, angsa, dan lain-lain) yang semuanya menjadi sumber penghasilan.
Kemudian di distrik peternakan juga dibangun tempat karantina hewan, kolam budidaya ikan air tawar, bangunan laboratorium kultur jaringan, laboratorium embrio transfer dan inseminasi buatan, abngunan pengelolaan susu dan pengolahan paka ternak. Hingga saat ini, para ahli peternakan di Al-Zaytun termasuk Syaykh AS Panji Gumilang, telah berhasil melakukan inseminasi dan embrio transfer berbagai jenis sapi. Sapi-sapi tersebut menjadi bibit unggul yang siap dikembang-biakan.
Ada tiga jenis sapi yang dipelihara di sini. Sapi perah, sapi potong dan sapi unggul. Sapi-sapi tersebut terus dikembangkan secara optimal, untuk memenuhi kebutuhan daging sapi bagi penghuni Al-Zaytun. Demikian juga denga peternakan unggas.
Lahan pertanian telah berhasil membudi-dayakan beras bibit unggul, cabai, tomat, jagung, kol, serta berbagai jenis sayuran organik lainnya. Semua hasil pertanian telah mampu menopang kebutuhan makanan di seluruh Al-Zaytun. Di sini, bukan saja ketahanan pangan terjaga, namun juga telah menjadi lumbung padi dan makanan. Kebutuhan beras di komplek ini rata-rata 4,5 sampai 5 ton perhari. Padahal lahan pertaniannya mampu menghasilkan 15-20 ton perhari. Dengan demikian, surplus antara 12-15 ton perhari, yang hasil penjualannya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti sabun, odol dan sebagainya. Semua hasil panen ini disimpan dan dijual melalui Koperasi Al-Zaytun.
Perkebunan
Lahan perkebunan ditanami tanaman komersil seperi jadi mas, jagung manis, jeruk silam garu, mangga, rumput king grass, serta seluruh jenis tanaman baik tanaman buah maupun tanaman keras yang beraneka raga. Produk tanaman keras seperti kayu jati, khusus dikembangkan untuk memenuhi ketersediaan kebutuhan kayu. Sebab kayu-kayu jati tersebut digunakan untuk membuat meja, kursi dan perlengkapan meubel lainnya.
Di sini, produk meubel dihasilkan sendiri. Dari meja kursi dan lemari untuk asrama, untuk ruang belajar dan lain-lain. Industri meubel ini dijalankan oleh para karyawan yang sudah terlatih dan memiliki kemampuan desain meubel. Workshop meubel ini sekaligus sebagai tempat praktek santri, yang mampu menghasilkan berbagai produk. Mulai dari meja, kursi, lemari hingga macam-macam hiasan meja. Dari sini pulalah meja kayu jati dikantin, di ruang belajar, ruang asrama bahkan di tempat penginapan, ruang tamu dan kantor dihasilkan.
Pohon-pohon tanaman kertas yang sengaja dibudi-dayakan ini telah melalui serangkaian proses penelitian yang disebut kultur jaringan. Tujuannya untuk memperoleh bibit jati unggul yang bisa memberikan manfaat berlipat ganda. Selain bibit unggul, laboratorium kultur jaringan juga mengembangkan hamper semua tanaman yang ada. Seperti, rumput untuk makann ternak.
Air
Jauh sebelum Al-Zaytun didirikan, daerah ini terkenal kering dan tanahnya sulit menyerap air. Kini semuanya sudah berubah. Semua gedung di lingkungan Al-Zaytun dilengkapi dengan sarana penyerapan. Sehingga jika hujan turun, air terserap ke dalam tanah dengan cepat.
Guna mencukupi ketersediaan air, karena daerah ini termasuk tandus, dan untuk mengantisipasi musim kemarau maka Al-Zaytun membuat empat buah empang yang masing-masing berukuran 100 X 100 M2 dengan kedalaman 6 meter satu buah waduk seluas 7 Ha dengan kedalaman 9 meter. Empang maupun waduk ini selain untuk menyimpan air juga sekaligus dimanfaatkan sebagai peternakan ikan. Baik empang maupun waduk dibuat sebagai penyeimbang air tanah yang merupakan pendukung pengairan.
Air yang ditampung di waduk, telah melalui beberapa proses penyaringan. Sehingga siap digunakan untuk kepentingan asrama dan mengairi 30 ha area pertanian. Dengan harapan area ini tidak akan kekeringan di musim kemarau dan tidak akan kebanjiran di musim hujan.
(Sumber Majalah Berita Indonesia-14/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Monday, June 05, 2006

Fakultas-fakultas Terpadu di UAZ-Indonesia

Alumnus Universitas Al-Zaytun nantinya diharapkan, bukan saja menjadi tenaga ahli dibidangnya, tetapi juga menguasai bergabai bidang secara mendalam. Sehingga di manapun mereka mengabdi, akan menjadi pribadi-pribadi yang mandiri, penuh dedikasi dan berkemampuan saing di tingkat internasional. Untuk itulah Universitas Al-Zaytun Indonesia menerapkan sistem pendidikan dengan fakultas-fakultas terpadu.

Universitas Al-Zaytun Indonesia (UAZ-Indonesia) dibuka pada Agustus 2005. Pengoperasian UAZ-Indonesia ini merupakan per-wujudan sistem pendidikan satu pipa (one pipe education system), yang sejak awal dicanangkan Syaykh Al-Zaytun Dr. AS Panji Gumilang. Jaminan mutu adalah alasan utama penerapan sistem pendidikan satu pipa Al-Zaytun. Sekali bergerak mendidik, kata Syaykh AS Panji Gumilang, harus berkualitas dan berkelas dunia.

Dengan sistem satu pipa tersebut, santri berpeluang menempuh pembelajaran di Al-Zaytun, selama 20 tahun secara berkelanjutan. Mulai sekolah dasar, pada umur enam tahun hingga mencapai gelar doctor (S-3) pada usia 25 tahun. Diharapkan pada usia sedini mungkin (25 tahun), para alumni Al-Zaytun telah dapat mengabdikan dirinya pada bangsa dan negaranya, dalam kapasitas sebagai doctor.

Pada akhir Mei 2005, Al-Zaytun meluluskan lebih dari 1.200 pelajar tingkat menengah atas. Sebagai konsekuensi menganut pendidikan bersistem satu pipa, Al-Zaytun harus menyiapkan terwujudnya universitas, yang dapat menampung mereka dan siapapun (dari luar pelajar Al-Zaytun) yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di Al-Zaytun. Maka, kemudian dibangunlah gedung untuk Universitas.

Awal berdiri, Universitas ini telah memulai dengan beberapa program. Diantaranya, Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T), Program Pendidikan Teknik Terpadu (P2T2) dan Program Pendidikan Bahasa-bahasa Terpadu (P2BT). Cikal Bakal Universitas Al-Zaytun Indonesia ini juga semakin menemukan bentuk setelah mengadakan berbagai studi banding ke berbagai universitas terkemuka di Indonesia maupun negara sahabat dan dengan berbagai persiapan dalam bentuk penyediaan tenaga pengajar yang berkualifikasi. Al-Zaytun juga telah lebih dahulu melaksanakan kerja sama dengan beberapa staf pengajar IPB Bogor dalam penyelenggaraan Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T). Program ini merupakan cikal bakal Fakultas Pertanian Terpadu Universitas Al-Zaytun Indonesia. Juga dengan beberapa dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (dulu IAIN Jakarta) dalam menyelenggarakan program Kuliah al-Lughah berupa peningkatan kualitas berbahasa arab bagi seluruh pamong dididik dan eksponen Al-Zaytun yang diikut-sertakan. Prof. Dr. Abdurrahman Partosentono, adalah salah seorang senior di UIN Jakarta, yang menjadi salah satu promoter program ini.

Pendidikan Pertanian Terpadu

Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T) adalah program pendidikan tingkat tinggi non degree. Program yang dimulai sejak 1 Januari 2000 ini merupakan program pendidikan pertania terpadu satu-satunya di Indonesia. Tidak seperti sistem pendidikan tinggi lain, program ini menerima mahasiswa pada setiap semester. Lama pendidikan empat semester, plus program bela negara dan penguasaan bahasa. Jadi, paling tidak setelah tiga tahun mereka baru benar-benar bisa terjun menjadi manajer-manajer pertanian masa depan.

Program ini ditangani oleh tenaga pengajar yang berkualitas, bekerja sama dengan para tenaga pengajar dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Syaykh AS Panji Gumilang mengatakan, didirikannya P3T sebagai usaha Al-Zaytun dalam rangka mempersiapkan kader-kader atau praktisi di bidang pertanian yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian.

Diharapkan, dengan adanya aplikasi teknologi pertanian secara terpadu, para alumni P3T mampu menghasilkan produk-produk pertanian. Dalam skala internal mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dan dalam skala eksternal mampu bersaing dengan produk-produk dari luar negeri. Syaykh Al-Zaytun mengatakan seluruh kegiatan yang dilaksanakan di Al-Zaytun merupakan kegiatan yang telah direncanakan secara matang.

Cikal bakal Fakultas Pertanian Terpadu Universitas AL-Zaytun Indonesia ini menempati Gedung Idadi yang berdiri di atas lahan 4.000 meter persegi. Seluruh kegiatan pendidikan, kecuali laboratorium, dipusatkan di gedung itu. Termasuk ruang dosen maupun asrama mahasiswa. Gedung itu dirancang dengan menggunakan pendekatan pertanian, beratap tinggi, dan berlatar belakang hutan.

Para calon mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah terlebih dahulu menjalani serangkaian tes yang diwajibkan oleh YPI, termasuk tes kesehatan dan tes mental. Sebelumnya, di daerah masing-masing merekapun telah menjalani tes-tes oleh coordinator YPI. Mereka yang lulus tes di daerah itulah yang berhak mengikuti tes di Al-Zaytun.

Pada saat ini (2006) telah terlaksana 12 angkatan dengan jumlah keseluruhan mahasiswa lebih dari 400. Alumni dari fakultas ini umumnya langsung dikaryakan untuk mengelola lahan di Al-Zaytun dan menangani koperasi simpan pinjam yang bekerja sama dengan masyarakat desa sekitar Al-Zaytun. Mereka juga bekerja memberikan penyuluhan untuk peningkatan hasil pertanian masyarakat.

Langkah mendahulukan pelaksanaan P3T ini dilator-belakangi kebijakan Al-Zaytun yang telah memutuskan bahwa sector pertanian menjadi pendamping sector pendidikan. Sesuai dengan paradigma pendidikan ekonomi dan ekonomi pendidikan. Oleh karena itu, telah disiapkan lahan pertanian di sekeliling areal pendidikan seluas 1.000 hektar yang masih akan terus diperluas. Pertanian disini bukan saja bertani tanaman padi atau palawija, melainkan meliputi berkebun, perhutanan, perikanan dan peternakan secara terpadu.

Pendidikan Teknik Terpadu

Program Pendidikan Teknik Terpadu (P2T2) ini adalah program pendidikan tingkat tinggi non degree yang ditempuh dalam masa 4 semester. Para pengajarnya berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia (seperti ITB, UI, IKIP dan lain-lain). Program yang merupakan embrio dari Fakultas Teknik Universitas AL-Zaytun Indonesia ini dimulai 1 Juli 2002.
Dibukanya program ini bersamaan dengan program peningkatan kualifikasi dan pasca sarjana di bidang pendidikan yang bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Latar belakang pembentukan program ini antara, antara lain tertulis bahwa Al-Zaytun sebagai institusi pendidikan umat sesuai dengan motto “Al-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian” menjadikan segala aktivitasnya selalu memasukan unsure pendidikan baik formal maupun informal. Begitu pula aktivitas pembangunan yang sedang dilaksanakannya.

Hal ini berkaitan dengan percepatan pembangunan fisik Al-Zaytun, yang menjadikan kebutuhan tenaga terampil dan terdidik semakin besar. Tak hanya untuk menempati posisi manajer proyek di dalam lingkungan Al-Zaytun tapi juga untuk penyebaran Al-Zaytun di seluruh Indonesia. Untuk menjawab itu P2T2 ini dimulai.

Rekrutment mahasiswa dilaksanakan setiap tahun yang berasal dari karyawan pembangunan di berbagai unit pembangunan yang ada di Al-Zaytun. Hingga saat ini (tahun 2006) sudah berjalan 4 (empat) angkatan dengan jumlah mahasiswa lebih dari 80 orang. Program studi yang ditempuh sebesar 76 SKS yang dibagi menjadi 4 semester. Satu SKS ekuivalen dengan 60 menit tatap muka dengan dosen dan 2 x 60 menit praktik di lapangan atau laboratorium. Serta 1 x 60 menit kegiatan belajar mandiri terprogram.

Jadi, pendidikan ini setingkat dengan strata Diploma 2 (D-2). Namun demikian menurut Ir. Asrur Rifa dan Ir. Bambang Abdul Syukur, yang ikut membidani program ini, konsepnya berbeda dengan program teknik D-2 yang diselenggarakan oleh berbagai perguruan tinggi. Dari segi kurikulum, kurikulum P2T2 disusun berdasarkan hajat pemahaman teknik seorang manajer lapangan yang bisa menguasai keseluruhan tahapan suatu proyek pembangunan. “Seorang manajer lapangan yang memiliki gambaran utuh mengenai suatu bangunan yang di dalamnya memang minimal ada empat disiplin ilmu : mekanikal, elektrikal, sipil, dan arsitektur,” kata Ir. Asrur Rifa. Selama ini, katanya, dalam sebuah proyek bangunan sering terjadi ketidak sinkronan dalam perencanaan jalur-jalur elektrikal, mekanikal terhadap rancangan sipil dan arsitektur. Sehingga, sering terjadi rebutan lahan,” tambahnya.

Hal senanda dikemukakan Ir. Bambang Abdul Syukur, dalam pendidikan teknik – termasuk politeknik – pada umumnya masih belum integral. Pendidikan teknik arsitektur misalnya yang umumnya lebih mengkhususkan diri pad desain bangunannya tapi melupakan kelengkapannya seperti mekanikal, elektrikal, dan sistem sipil yang ada didalamnya sehingga tidak dipahami secara detail oleh para arsitek pada umumnya. “inilah bedanya dengan P2T2. Di sini seorang arsitek diharapkan tidak hanya memahami sipil, mekanikal, dan elektrikal secara umum tapi memiliki pemahaman yang terpadu dan pemahaman dasar yang cukup detail dari empat bidang keilmuan tadi,” ujar insinyur yang alumnus Teknik Arsitektur ITB ini.

Dengan Demikian, arsitek yang dihasilkan akan mampu mengakomodasi semua aspek. Merekapun akan lebih mampu me-manage pembangunannya. Dampaknya, perencanaan akan lebih singkat dan matang. “Lulusan S-1 Sekarang belum bisa dilepas di proyek. Dalam menyusun proyek perencanaan saja belum tentu bisa secara terpadu,” kata Ir. Bambang Abdul Syukur.

Peserta program pendidikan ini pada tahap awal adalah karyawan Al-Zaytun dengan latar belakang pendidikan minimal lulusan SLTA (STM dan SMA Jurusan IPA) dengan seleksi cukup ketat. Selain untuk memenuhi hajat intern, terbuka kemungkinan jika ada perusahaan atau lembaga yang berminat menampung alumni P2T2 Al-Zaytun. Dari sana diharapkan dunia luar akan bisa menilai kualitas dan keunggulan yang ditawarkan _2T2.

Keunggulan-keunggulan itulah yang akan menarik mereka untuk masuk ke P2T2 atau Fakultas Teknik Universitas Al Zaytun Indonesia. Jadi nantinya program ini akan membuka kesempatan bgai mahasiswa non karyawan. Program pendidikan ini tidak full beasiswa. Pada prinsipnya mahasiswa tetap membiayai pendidikannya. Namun bagi karyawan diberikan apresiasi dalam bentuk pinjaman tanpa bunga yang keseluruhannya dituangkan dalam bentuk perjanjian.

Pendidikan Bahasa-bahasa Terpadu

Program Pendidikan Bahasa-bahasa Terpadu adalah program pendidikan tingkat tinggi strata 1 yang ditangani oleh tenaga pengajar dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Program ini dimulai pada awal 15 September 2002. Rekruitmen mahasiswa P2BT yang merupakan embrio Fakultas Sastra Universitas Al-Zaytun Indonesia ini dilaksanakan setiap tahun yang berasal dari para guru dan eksponen Al-Zaytun yang berlatar belakang pendidikan SLTA hingga D-3, disaring melalui sebuah tes penerimaan.

Program yang didukung penuh oleh para doesen dari UIN Syarif Hidayatullah ini pada tahap awal dengan tujuh dosen, empat di antarnya berkualifikasi Strata-3 (Doktor), tiga lainnya merupakan dosen yang telah berpengalaman menjadi tenaga pengajar jurusan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Namun, kini sudah lebih dari 10 dosen.

Konsep dasar P2B2 ini merupakan panggabungan dua fakultas di IAIN yaitu Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Adab. Kurikulum pada keduanya dirangkum menjadi satu keterpaduan. Selain itu, salah satu keistimewaan adalh adanya perkuliahan Islamic Studies yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan kuliah-kuliahnya dilakukan dengan bahasa pengantar bahasa Arab.

Adanya dua makna keterpaduan dalam kurikulum program ini. Pertama, kurikulumnya dirancang untuk memberikan dua kemampuan profesi baik sebagai ahli bahasa dan sebagai tenaga pengajar bahasa. Kedua, kurikulumnya menggambarkan kepadatan pengetahuan ilmu kebahasaan. Berbeda dengan kurikulum kuliah bahasa lainnya, P2BT tidak memuat pengetahuan yang tidak berkait dengan bahasa seperti Mata Kuliah Bahasa Indonesia dan Pancasila. Sebaliknya, kurikulum P2BT memuat mata kuliah yang justru belum ada dan belum popular di Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah seperti mata kuliah 'Ilm al-Ashwat dan Ilm al-Dalalah. Kurikulum P2BT ini merupakan perpaduan dan modifikasi beberapa kurikulum antara lain kurikulum pendidikan kebahasaan di UIN Syarif Hidayatullah, Sudan, Mesir, Saudi Arabia dan India.

Selain itu, P2BT juga memiliki kurikulum khas, seperti mata kuliah Balaghah Qur'aniyah, Ad-Dirasah al-Lughawiyah min al-Hadits dan At-Tar-jamah min Injiliziyah ila al-Arabiyah. Kurikulum P2BT juga mencerminkan pendalaman terhadap mata kuliah – mata kuliah tertentu. Misalnya, pada mata kuliah Al Insya, apabila pada beberapa fakultas lain hanya diberikan enam SKS, di P2BT diberikan 10 SKS. 'Semuanya dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan berbahasa mahasiswanya," kata Abdul Hafizh, salah satu dosen P2BT. Sementara itu, pengetahuan keagamaan yang termuat dalam kurikulum lebih condong kepada level wacana, bukan level pengetahuan praktis.

Sistem perkuliahan P2BT ini memadukan sistem paket dan sistem SKS. Mahasiswanya, berkewajiban menempuh 150 SKS yang ditempuh dengan rata-rata 20 SKS per-semester. Itu berarti program pedidikan berjenjang Strata-1 akan diselesaikan minimal empat tahun. Bahkan, jika nilai yang diraih peserta di atas rata-rata, mahasiswa itu bisa mengambil mata kuliah di atas 20 SKS per semester. Sehingga, mahasiswa itu akan bisa menempuh 150 SKS dalam waktu 3.5 tahun saja.
Kegiatan perkuliahan terbagi dalam tiga sesi : pagi, siang, dan malam. Pada pagi hari dimulai dimulai pada pukul 05.30 WIB, sore hari pada pukul 15.30 WIB dan malam hari pukul 19.00 WIB. Lamanya jam belajar dalam setiap sesinya bervariasi antara 1-3 jam mata kuliah. Jika Jadwal perkuliahan pada bisa sampai jam 10 malam. Perkuliahan pagi yagn dimuai pukul 05.30 WIB, dipandang unik. Sebab, ketika kebanyakan orang masih mempersiapkan segala aktivitas pagi, para mahasiswa sudah bersiap di kelas untuk memulai perkuliahan.

Selain perkuliahan bahasa, Departemen Program Pendidikan Bahasa-bahasa Terpadu juga telah menyelenggarakan program tabungan perkuliahan santri. Program yang dimulai 18 September 2003 itu merupakan akselerasi bagi santri yang berkemampuan "lebih" sehingga ketika mereka masuk ke perguruan tinggi telah mempunyai tabungan beberapa SKS (Sistem Kredit Semester) yang telah ditempuhnya selama masa tabungan perkuliahan.

Fakultas Teknologi Informasi

Fakultas IT menyediakan berbagai sarana. Diantaranya sejumlah 294 unit computer yang tersebar di seluruh lingkungan Al-Zaytun, telah terakses ke internet. Untuk terakses pada internet, digunakan antene parabola VSAT (Very Small Aperture Terminal) dengan kapasitas bandwith 512 KBPS (Kilo Bit Per Second). Sedangkan infrastruktur jaringan antar computer, menggunakan teknologi fiiber optic. Kemudian computer juga dilengkapi dengan 11 pusat penyimpanan data (server).
Upaya lainnya, Fakultas IT, bersama dengan ECS (Educational Counselling Service) Al-Zaytun, merintis kerja sama tersebut, antara lain berupa program sertifikasi ICDL (International Computer Driving Licence) dan program akademik Teknologi Informasi dari NCCC (National Computing Centre) Education, yang berkantor pusat di London. Program ini dilaksanakan secara online kepada kantor pusat masing-masing. Untuk melaksanakan program pendidikan IT ini, dibentuk Al-Zaytun Global Information and Comunication Technology (AGICT) yang sekaligus sebagai embrio terbentuknya fakultas IT. Dalam perjalananannya, AGICT telah memiliki 2.713 siswa program ICDL. Terdiri dari 1.595 siswa yang masih aktif belajar dan 1.118 siswa yang telah menyelesaikan Program IT tahap pertama. Mereka yang telah lulus dan melanjutkan ke ICCS (International Certificate in Computer Studies) salah satu program NCC, sejumlah 704 siswa.

Fakultas Kedokteran

Sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai tingkat kesadaran yang rendah di bidang kesehatan baik secara personal maupun masyarakat. Padahal kesehatan merupakan daasr utama pembentukan sumber daya manusia yang baik.

Penyediaan tenaga kesehatan tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu tenaga kesehatan, khususnya dokter harus dapat menjadi fasilitator pendidikan kesehatan di masyarakat. Perwujudan pendirian Fakultas Kedokteran (FK-UAZ-Indonesia) adalah prioritas pada tahap pertama.

Pendirian FK-UAZ-Indonesia diawali kehadiran hospital kampus, didukung oleh 12 dokter siaga 24 jam dengan segala peralatan mutahkhir untuk melayani kasus-kasus kesehatan.

Fakultas Pendidikan

Setiap warga Negara berhak memperoleh pendidikan bermutu karena pendidikan adalah hak asasi manusia. Hakikat kegiatan pendidikan adalah membiasakan manusia supaya menjadi lebih baik dari sebelumnya, dengan memiliki keluhuran budi, moral dan akhlak yang lebih baik.

Perbaikan tergambar dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan serta kemampuan karya cipta yang lebih baik guna meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Untuk mencapai tujuan ideal pendidikan diperlukan sejumlah prasyarat, seperti staf pengajar bermutu, fasilitas pendidikan yang memadai, dan system pendidikan dan formulasi kurikulum yang sesuai dengan hajat, serta kebijakan politik pendidikan yang kondusif. Dan demi menjamin mutu, setiap institusi pendidikan dituntut harus mampu menyelenggarakan proses pendidikan yang berkesinambungan.

Nah, strategi untuk menjamin mendapatkan pendidikan yang optimal dan berkesinambungan adalah penerapan One Pipe Education System. Sistem ini dilengkapi minimal tiga jalur, yaitu jalur akademis, jalur kombinasi (akademis dan keahlian), dan jalur keahlian. Ketersediaan ketiga jalur akan mempermudah pembimbingan manusia dalam menyalurkan bakat dasarnya, hingga mencapai tingkat pendidikan yang tertinggi di bidangnya.

UAZ-Indonesia mendirikan Fakultas Pendidikan (FP-UAZ-Indonesia) setelah terlebih dahulu mempersiapkan berbagai kelengkapan, yaitu lab lapangan berbentuk sekolah dasar dan sekolah tingkat menengah. Sebelumnya, UAZ-Indonesia melakukan pembenahan mendasar pada setiap strata sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Tujuannya, menempatkan kembali proses pendidikan supaya sesuai dengan cita-cita pendidikan yang sebenarnya. Fakultas Pendidikan mempunyai laboratorium lapangan, yaitu sekolah dasar dan sekolah tingkat menengah. Sekolah tingkat menengah, telah berlangsung selama 6 tahun. Lebih dari 7.200 pelajar, saat ini belajar dan tinggal di Al-Zaytun. Santri dewasapun ikut melengkapi laboratorium Fakultas Pendidikan. Santri dewasa yang berjumlah 483 orang terdiri dari karyawan Al-Zaytun yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan dasar dan menengah.

Dari berbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Al-Zaytun terus menerobos masuk ke percaturan pendidikan Internasional. Hal ini telah, sedang dan terus diusahakan dalam bentuk usaha bersama mendirikan Al-Zaytun American University. Hal lain yang terus dirintis adalah diakuinya Al-Zaytun sebagai satu-satunya pemegang hak sertifikasi kemampuan olah computer oleh ICDL-AP di Indonesia.
Selain itu, Program Pendidikan Pertanian Terpadu, yang sekarang telah menjadi Fakultas Pertanian Terpadu Universitas Al-Zaytun Indonesia telah mendapatkan pengakuan, bukan hanya dari dalam negeri namun juga pengakuan dari luar negeri. [Sumber Majalah Berita Indonesia -14/2006].
Bacaan Selanjutnya!
Tiga Visi-Misi dan Output UAZ-Indonesia

Manusia berkualitas tidak diperoleh dari bahan dasar yang berkualitas saja, melainkan harus pula diproses dengan mesin atau sistem yang juga berkualitas. Ketelitian memproses bahan yang berkualitas menjadi hasil yang berkualitas adalah syarat bagi suksesnya sebuah hasil yang berkualitas.

Pendidikan yang tidak terencana dan tersistem akan menjerumuskan bangsa ke tempat yang terpuruk. One pipe education system atau sistem pendidikan satu pipa yang diwujudkan Al-Zaytun merupakan solusi jitu menjawab persoalan pendidikan dan kehidupan bangsa supaya bisa bangkit, maju dan jaya.

Pendirian Universitas Al-Zaytun Indonesia (UAZ-Indonesia) mengemban tiga visi dan misi yaitu :
1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk mempersiapkan peserta didik yang berakaidah
kokok kuat terhadap Allah dan Syari’at-Nya, menyatu di dalam tauhid, berakhlak al-
karimah, cerdas, bajik dan bijak, berpengetahuan luas, berketerampilan tinggi yang
tersimpul dalam basthatan fi al-ilmi wa al-jismi sehingga sanggup dan mampu untuk hidup
secara dinamis di lingkungan negara dan bangsanya dan masyarakat antar bangsa dengan
penuh kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi dann ukhrawi.
2. Mengembangkan iptek secara terpadu dan efisien untuk menjawab tantangan pembangunan
masa depan.
3. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang iptek secara terpadu untuk
mewujudkan negara Indonesia yang kuat, adil dan makmur.

Berdasarkan Visi dan Misi tersebut UAZ-Indonesia mampu membimbing mahasiswa mencapai tingkatan pendidikan S-3 yang berkualitas baik, hingga dapat mengabadikan ilmu dan tenaganya kepada bangsa pada usia produktif.

Tiga ciri keluaran (output) UAZ-Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Lulusan berkualitas yang memiliki imtak dan menguasai iptek berlandaskan budaya toleransi
dan budaya perdamaian.
2. Pengembangan iptek berkualitas yang dapat menjadi trend setter bagi masyarakat
ilmiah.Produk dan jasa yang berkualitas serta berdaya saing.
Bacaan Selanjutnya!
Pendidikan Nasional Berbasis Pedesaan

Dunia pendidikan, dunia yang penuh dinamika. Pendidikan Nasional, bagai sebuah pekerjaan rumah yang tak kunjung usai. Setiap waktu pekerjaan rumah itu selalu ada. Sarana pendidikan, seperti banyaknya sekolah yang rusak, SDM guru, biaya pendidikan, kurikulum, kebijakan yang terus berubah-ubah dan persoalan lain yang semakin kompleks menjadi problem serius dunia pendidikan nasional.

Merunut sejarah, tokoh pendidikan terpadu, Syaykh AS Panji Gumilang menilai bahwa pada dekade awal kemerdekaan, sistem pendidikan belum mendapat perhatian pemerintah. Baru tahun 1970-an mulai dikembangkan perhatian terhadap pendidikan dasar, menengah bahkan Taman Kanak Kanak.

Sesudah 1997, data pendidikan di Indonesia belum dapat diakses secara jelas. Namun, diasumsikan bahwa perkembangannya bisa lebih menurun. Asumsi ini didasarkan pada problem didaerah diantaranya banyaknya gedung sekolah yang rusak. Bahkan di bebarapa daerah konflik seperti di Aceh, banyak sarana pendidikan yang dibakar oleh pihak yang bertikai. Maka banyak kalangan menyimpulkan, pendidikan Indonesia sedang menurun dan merosot tajam dari tahun-tahun sebelumnya.

Selama setengah abad lebih setelah kemerdekaan, system pelaksanaan pendidikan Indonesia tersentralisasi ke pusat. Semua kebijakan pelaksanaan ditentukan oleh pusat. Sedangkan secara geografis, sarana dan prasarana pendidikan dipulau-pulau terluar belum tertangani dengan jelas. Maka menurut Syaykh AS. Panji Gumilang, sentralisasi pendidikan dinilai tidak efektif dan tidak efisien.

Sementara itu, pada kenyataannya pelaksanaan pendidikan selam ini, perbedaan kualitas pendidikan desa dan kota sangan mencolok. Persoalan ini hingga kini belum terjembatani secara sistematis. Padahal kenyataannya, sebagaian besar penduduk Indonesia tinggal di pedesaan.

Maka menurut Pemimpin Al-Zaytun ini, membangun pendidikan, mesti berfokus kepada pembangunan pedesaan. Menata dan membangun pedesaan sangat beraktibat besar kepada kestabilan kehidupan kota, baik sektor ekonomi maupun keamanan. “Mempercepat pembangunan pendidikan pendesaan akan mempercepat pembudayaan masyarakat secara luas, yang pada gilirannya akan mempercepat pemerataan budaya kemajuan yang ada didalam masyarakat Indonesia secara keseluruhan, perkotaan
aupun pedesaan.” Katanya pada Rubrik Lentera, Berita Indonesia (Edisi 13/18 Mei 2006).

Karenanya perlu diciptakan system terpadu untuk menjem-batani kualitas pendidikan kota dan desa secara serius. Keberdayaan pendidikan desa, yang merupakan tempat tinggal 57% penduduk Indonesia menjadi sangat mutlak adanya. Dengan menata pendidikan desa dapat tercipta sumber daya insani yang siap dan sanggup secara mandiri membangun desanya, sanggup menghadapi tantangan kerja berdasarkan kompetensi yang meraka peroleh melalui pengalaman pendidikan formal di sekolah.

Citra Pendidikan Modern

Ditengah-tengah merosotnya dunia pendidikan nasional, muncul berbagai pemikiran mengenai model-model pendidikan. Ada pendidikan berbasis internasional, pendidikan berwawasan global, pendidikan islam berwawasan internasional dan sebagainya. Model-model pendidikan ini telah teruji dan mampu menopang pelaksanaan pendidikan nasional. Salah satunya adalah model pendidikan Pondok Pesantren Peradaban Berskala Dunia Al-Zaytun. Sebuah pesantren modern yang berskala internasional, dengan kampus peradaban terpadu dan system modern.

Lembaga pendidikan dengan sistem pesantren modern ini terletak di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Menempati lahan seluas 1200 ha, dengan luas bangunan 200 ha dan 1.000 ha untuk lahan pertanian, peternakan dan sarana laboratorium praktek. Sejak berdiri tahun 1999, kini lembaga ini memiliki jumlah siswa-siswi sebanyak 10.000 lebih, yang terdiri dari siswa MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah), dan mahasiswa UAZ-Indonesia (Universitas Al-Zaytun Indonesia).

Dengan system pendidikan satu pipa (one pipe education system) lembaga ini memiliki tujuan untuk mempersiapkan peserta didik yang mandiri, cerdas pikiran, emosi dan spiritualnya, bijak dan mampu memposisikan diri dalam kondisi apapun, menguasai sains dan teknologi, cinta negara dan mamou hidup dengan bangsa-bangsa lain. Dalam tujuh tahun perjalanan (1999-2006), lembaga ini mampu menanamkan image sebagai sekolah berkualitas antar bangsa, sebagai citra pendidikan modern.

Maka boleh dikatakan, jika Steven Spielberg dan pemerintah Los Angeles memanfaatkan lahan ribuan hectare untuk distrik studio film ‘Universal Studios’, maka Syaykh AS Panji Gumilang memanfaatkan ribuan hektare tanah di Indramayu untuk membangun distrik ‘Universal Education’ . Sehingga, jika orang datang ke ‘Universal Studios’ akan berdecak kagum dengan industri film di Amerika, sedangkan jika orang dating ke ‘Universal Education’ akan berdecak kagum dengan industri pendidikan di sana. (Sumber Majalah Berita Indonesia - 14/2006)
Bacaan Selanjutnya!
Sistem Pendidikan Terpadu Satu Pipa

Syaykh AS Panji Gumilang adalah pendiri dan pemimpin pondok pesatren modern (kampus) "Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian” Al-Zaytun. Ia melejit di belantika pendidikan nasional dengan mengusung ide besar baru yaitu one pipe education System atau system pedidikan terpadu satu pipa yang mensyaratkan ketersediaan kesinambungan system pendidikan secara terpadu dari tingkat dasar (SD) hingga tertinggi (S-3).

Karena ide besarnya, Syaykh Alumni Ponpes Gontor, dan IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang dikenal sebagai personifikasi Al-Zaytun, ini sungguh-sungguh merupakan seorang guru pelopor pendidikan terpadu (kampus peradaban) yang mengandalkan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’.
“Kekitaan ini mempunyai satu kekuatan yang tidak pernah dapat diruntuhkan oleh siapapun, kecuali oleh yang membuat kita itu sendiri.” Kata Syaykh AS Panji Gumilang kukuh, yang pandangannya seringkali melebihi kemampuan banyak orang.

Fenomena Al-Zaytun, yang membangun model peradaban baru berdimensi global dalam kisaran waktu melebihi ratusan bahkan hingga ribuan tahun ke depan. Desain ini tak akan pernah putus, titik beratnya terletak pada pembangunan sistem pendidikan terpadu dalam satu pipa. Di sana bisa dijumpai Mesjid Rahmatan Lil’alamin berkapasitas 150.000 jamaah, gedung pembelajaran, perkuliahan dan asrama bertingkat-tingkat untuk menampung puluhan ribu siswa dan mahasiswa berasrama atau boarding school. Demikian pula pusat pengembangan olah raga, lahan pertanian terpadu, perbengkelan, dan segala macam hardware atau perangkat keras.

Pernik-pernik perangkat keras itu diperlukan untuk menjalankan piranti lunak berupa sebuah sistem pendidikan terpadu dalam satu pipa atau one pipe education system untuk menghasilkan manusia bercirikan brainware abad 21, sesuai dengan Visi Enam Citra Pendidikan Indonesia Tahun 2020. Pencapaian Visi Enam Citra Pendidikan Indonesia Tahun 2020 barulah sebuah fase awal, atau sebagai persiapan menuju tahun-tahun berikut yang lebih menantang.

Maka itulah peta perjalanan Al-Zaytun dimulai tepat pada tarikh 13 Agustus 1996. Saat itulah Al-Zaytun didirikan sebagai sebuah usaha unggulan dari Yayasan Pesantren Indonesia (YPI).
Secara seremonial pendirian lembaga pendidikan AL-Zaytun diresmikan oleh Presiden BJ. Habibie pada 247 Agustus 1999.

Pendidikan terpadu dalam satu pipa juga dimaksudkan untuk menghasilkan putra-putri bangsa yang sanggup menguasai science & technoplogy dengan segala perkembangannya. Dan yang paling inti, sebagai warga bangsa, putra-putri bangsan Indonesia keluaran Al-Zaytun ini mampu menciptakan kestabilan dan keselamatan negara.
Dan terakhir, sangggup hidup dalam tatanan antar bangsa di sebuah tata peradaban yang sempurna.
“Nah, itu cita-citanya. Jadi tidak terlalu jauh. Kalau dalam bahasa Al-Qur’an-nya disebut dengan basthotan fil ‘ilmi wal jismi,” jelas Syaykh AS Panji Gumilang.

Al-Zaytun diharapkan mempersiapkan manusia yang menjadi dirinya sendiri di masa depan, dengan memiliki sejumlah persiapan yakni cerdas berpikir menyangkut intelektual, emosional dan spiritual : punya bajik dan bijak yaitu bisa memposisikan dirinya pada kondisi apapun, menguasai sains teknologi, cita negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup dengan bangsa-bangsa lain.

Bekal yang diberikan kepada setiap siswa dan mahasiswa Al-Zaytun didesain untuk memampukan mereka berinovasi pada saatnya. Tanpa diuraipun mereka akan memiliki self-esteem yang tinggi, sebab hal itu sudah merupakan cita-cita pendidikan internasional seluruh bangsa di dunia.
Persamaan ini pulalah yang bisa memberikan sumbangan besar kepada dunia, sehingga semua arus utama dan seluruh warga dunia dapat bertemu pada suatu saat nanti.

Itulah international setting yang sedang dibangun Al-Zaytun. Dengan demikian, cara berpikir mereka menjadi International Thinking, cara solidaritas menjadi International solidarity, tatanan hiduppun semua menjadi International Setting. ”Itulah yang dinamakan dengan hidup global atau globalisasi, yakni kekuatan nasional namun mampu mengakses kehidupan antar bangsa,” ujar Syaykh AS Panju Gumilang.
Syaykh mewujudkan ide besarnya ini disebuah lokasi terpecil jauh dari pusat keramaian kota, yaitu di Desa Mekarjaya, Indramayu, Jawa Barat.

Syaykh berucap, pendidikan haruslah mengekspos segala kegiatan umat manusia baik itu ekonomi, energi, environment dan lain-lain. Al-Zaytun memerlukan lahan seluas 1.200 hektar, yang mulanya tak lebih sebuah semak belukar kosong tak berpenghuni, demi mewujudkan cita-cita globalnya.

Siapkan Laboratorium.

Dalam proses pendidikan, Al-Zaytun sengaja mengekspos dan menanamkan sebuah laboratorium alam ke benak anak didik, dengan tujuan mereka nanti mampu berinovasi. Misalnya, bila diekspos perahu akan timbul dalam pikiran, dahulu kami membuat sendiri yang namanya perahu, lalu mengapa sekarang harus membeli. Akhirnya mereka akan membuat sendiri perahu sebab ilmu dan pengalamannya ada.

Demikian pula dengan pendirian laboratorium peternakan, pertanian, teknologi informasi dan komunikasi, jurnalistik, perbengkelan, bahasa dan segala macam, semua memaknakan siswa akan bisa melakukan apapun bila didasarkan inovasi.
Misalnya dibidang pertanian. Demi tujuan siswa memiliki kemampuan berinovasi, guru-guru yang terbagus sengaja didatangkan dari IPB Bogor untuk mengaja. Guru diberi kebebasan melakukan eksperimen, paling tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.

Sesuatu yang belum pernah dibuat di IPB, menjadi bisa di-lakukan di Al-Zaytun. Pada saat tulisan ini dibuat (02 Juni 2006) IPB belum mengembangkan embrio transfer, misalnya, Al-Zaytun sudah berhasil mengembangkan bibit sapi unggul. Bibit baru ini lalu disebar ke mana-mana. Dengan demikian guru-guru mengajar penuh dengan persiapan dan kompetensi.

Sistem Pendidikan Satu Pipa

Setelah mengorbit dalam jagat raya pendidikan nasional tingkat sekolah menegah, sejak 1999, maka bermula pada tarikh 27 Agustus 2005 Al-Zaytun mulai membuka pendidikan tinggi. Perguruan tinggi ini diberi nama Universitas AL-Zaytun Indonesia (UAZ - Indonesia).

Bersamaan dengan itu, dimulai pula pengoperasian pendidikan tingkat sekolah dasar, atau madrasah ibtidaiyah. Pengoperasian sekolah dasar dan UAZ-Indonesia serta merta melengkapi bukti perwujudan sistem pendidikan satu pipa atau one pipe education system, yang sejak awal memang sudah menjadi cita-cita Syaykh AS Panji Gumilang.

Defivatif sistem pendidikan satu pipa kelak belum akan berhenti di sini. Ke bawah masih akan tersedia lagi jenjang pendidikan taman kanak-kanak hingga kelompok berbain atau playgroup, dikhususkan terutama bagi anak para karyawan, guru, dosen, eksponen dan segenap pihak yang terlibat di lingkungan Al-Zaytun. Memberikan jaminan mutu menjadi alasan utama mengapa Al-Zaytun menerapkan sistem pendidikan satu pipa. Syaykh AS Panji Gumilang menyebutkan, sekali bergerak mendidik haruslah berkualitas dan berkelas dunia.

“Al-Zaytun jangan berbuat yang tidak bermutu. Untuk apa kita mendidik, bila hasilnya akan sia-sia.” Seruan ini sangat sering sekali ditekankan Syaykh kepada segenap eksponen dan guru Al-Zaytun. Pendirian UAZ-Indonesia dimaksudkan untuk menampung 1.200 siswa lulusan pertama Al-Zaytun di tahun 2005, dan siapa saja dari luar yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi dalam konsep one pipe education system.

Maka berdirilah kokoh sebuah gedung perkuliahan berlantai 7 dengan total luas lantai 24 ribu m2, yang diberi nama Gedung Perkuliahan Jendral Besar Haji Muhammad Soeharto.
Ruangan-ruangan dalam gedung perkuliahan didesain sesuai dengan hajat universitas. Yakni,
o Terdapat 40 ruang kuliah dengan luas masing-masing 96 m2;
o Terdapat 20 ruang kuliah berbentuk segi enam masing-masing seluas 120 m2;
o 8 ruang kuliah berbentuk tribun seluas masing-masing 144 m2;
o 40 laboratorium dengan luas masing-masing 96 m2;
o 88 ruang rektorat dan dekanat dengan total luas 1.353 m2;
o 2 ruang pertemuan masing-masing seluas 480 m2;
o 1 auditorium seluas 1.008 m2; dan ruang pendukung lainnya.

UAZ-Indonesia menyelenggarakan pendidikan enam fakultas, yaitu :
o Fakultas Pertanian Terpadu,
o Fakultas Teknik Terpadu,
o Fakutlas Kedokteran,
o Fakultas Teknologi Informasi (information technology),
o Fakultas Bahasa terpadu dan
o Fakultas Pendidikan.

Memasuki semester ketiga atau tahun kedua didirikan lagi fakultas baru eksakta maupun social seperti Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum.
Dalam kegiatan mendidik, kegiatan riset adalah ciri dan sifat yang melekat dalam UAZ-Indonesia. Maksud ciri ini, UAZ-Indonesia berkehendak pula akan menjadi sebuah Center of Research atau Pusat Riset. Dengan demikian motto Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan akan menjadi lebih nyata dalam fungsinya. “Tidak boleh ada sesuatupun wujud di UAZ-Indonesia yang tidak akurat.”, tegas Syaykh AS Panji Gumilang.

Spirit pesantren yang di-setting secara modern memacu terbentuknya masyarakat yang toleran dan damai. Spirit berwujud sistem boarding school berfungsi sebagai ktalisator bagi munculnya penemuan-penemuan ilmiah yang actual dan up to date. Dengan demikian UAZ-Indonesia menjadi center of excellence pula sekaligus universitas riset internasional dengan jiwa pesantren, bersistem modern, berlandaskan budaya toleransi dan budaya damai. UAZ-Indonesia adalah lembaga pendidikan yang dapat menjadi contoh bagi kehidupan bangsa.

Al-Zaytun tak sekedar mengubah kesan kumuh lembaga pendidikan pesantren menjadi modern. Atau, mengubah potret penampilan santri dari sebelumnya bersarung menjadi berpakaian lengkap dengan jas dan dasi. Al-Zaytun mengubahkan paradigma dan wawasan lembaga pendidikan baru Indonesia menjadi berskala dunia, dan di-setting dalam jaminan mutu berdimensi global. (Sumber Majalah Berita Indonesia - 14/2006)
Bacaan Selanjutnya!